Rabu, 04 Juni 2014

Lomba Blog Aku Anak Sehat


Menanamkan Karakter Hidup Bersih, Sehat, dan Mandiri kepada Anak-anak Indonesia


Kasus-kasus keracunan jajanan anak yang banyak diberitakan di media massa, membuat saya prihatin. Sebagai ibu dari tiga orang anak yang sedang aktif-aktifnya, tentu saya ingin anak-anak mengonsumsi makanan yang aman, sehat, bergizi, dan baik bagi tumbuh kembangnya. Berdasarkan pengawasan yang dilakukan oleh BPOM terhadap jajanan anak di sekolah-sekolah, sekitar tahun 2008-2011, terdapat 40-44 persen jajanan anak yang tidak memenuhi syarat. Pada kasus keracunan jajanan anak di sebuah sekolah di Tasikmalaya, Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya menyebutkan bahwa sekitar 60 persen jajanan anak di sekolah, tidak layak konsumsi dan tidak sehat.


Sumber: Tribun News

Sumber: Koran Sindo
Sumber: DetikHealth
Bagaimana mungkin kita memberikan makanan yang tidak sehat dan tidak layak konsumsi, bahkan dapat menimbulkan keracunan kepada anak-anak, sementara mereka sedang membutuhkan asupan makanan sehat dan bergizi untuk tumbuh kembangnya? Makanan-makanan yang berpotensi menyebabkan keracunan kepada anak-anak, diantaranya:
  • Mengandung bahan pengawet, pemanis, dan pewarna buatan yang berlebihan dan berbahaya, serta tidak dimaksudkan penggunaannya untuk makanan, misalnya: Rhodamin B (pewarna makanan warna merah).
  • Mengandung bahan tambahan berbahaya, misalnya boraks dan formalin (pengawet mayat).
  • Tidak diolah dengan higienis, terutama jajanan gorengan dan yang dimasak oleh penjual.
  • Dijual di tempat terbuka tanpa ada penghalang antara makanan dan udara luar.
  • Sudah kadaluarsa, busuk, rusak, dan tidak layak konsumsi.

Sebagai orang tua, kita harus peduli terhadap jajanan anak-anak ini. Anak-anak usia 5-12 tahun masih belum mengerti mengenai jajanan yang sehat maupun tidak sehat, apabila orang tua tidak memberikan pengertian. Seringkali mereka juga terpengaruh oleh teman-temannya yang asyik menikmati jajanan-jajanan tidak sehat. Pertimbangan harga yang lebih murah juga dipakai oleh pedagang sebagai alasan menjual makanan yang tidak layak konsumsi. Misalnya saja, nugget, sosis, dan bakso yang mengandung boraks, pewarna Rhodamin B, dan pengawet berbahaya. Warnanya yang merah sangat menarik hati anak-anak, belum lagi harganya yang jauh lebih murah daripada makanan sejenis dengan kandungan bahan yang lebih aman.

Saluran pencernaan anak-anak juga masih sensitif karena belum berkembang sempurna. Tak heran bila mereka gampang sakit perut, muntah, diare, dan keracunan ketika mengonsumsi makanan yang tidak bersih dan sehat. Apabila mereka sering sakit, kegiatan belajar mengajar pun akan terganggu. Untuk itulah, PT Tupperware Indonesia menggelar program Aku Anak Sehat sejak tahun 2007, dan telah sukses menjangkau lebih dari 1.855 sekolah, 200 ribu murid, dan 300 ribu guru sekolah dasar. Di tahun 2014 ini, tema yang diusung adalah “Membangun Karakter Hidup Bersih, Sehat, dan Mandiri.” Direncanakan akan ada 100 ribu anak yang dijangkau oleh program ini, di Kota Jabodetabek, Solo, Surabaya, Pontianak, dan Medan. Ini adalah wujud kepedulian Tupperware Indonesia terhadap anak-anak Indonesia.

Konfrensi Pers Aku Anak Sehat
sumber gambar: Tupperware Indonesia
Salah satu pendidikan kesehatan yang terus disebarkan kepada guru dan murid dalam program Aku Anak Sehat adalah membawa bekal makanan bergizi ke sekolah. 

Manfaat membawa bekal sendiri ke sekolah, diantaranya:
  • Mengajarkan anak agar tidak terbiasa jajan di sekolah, apalagi jajan sembarangan.
  • Mengajarkan hidup hemat, dengan tidak jajan di sekolah.
  • Membiasakan makan makanan bergizi, dengan porsi seimbang.
  • Menjaga kesehatan pencernaan anak.  
  • Orang tua dapat mengontrol asupan gizi anak-anak, melalui makanan yang diberikan.


Ismail dan Bekal dari Rumah
Ismail, anak sulung saya, sudah duduk di TK B. Setiap hari, ia juga membawa bekal dari rumah. Selain pertimbangan di atas, gurunya juga melarang orang tua memberikan uang jajan kepada anak. Otomatis, saya sebagai ibu harus terus berpikir bekal apa yang akan dibawa Ismail ke sekolah, dan pasti dihabiskan olehnya. Ismail termasuk anak yang pemilih terhadap makanan, jadi saya harus memutar otak untuk urusan bekal sekolahnya ini. Bekal-bekal yang dibawa Ismail ke sekolah, di antaranya: nasi dan lauk pauk dengan lauk yang disukainya, roti bakar, spaghetti, susu, dan buah-buahan. Alhamdulillah, ia selalu menghabiskan bekalnya, dan sudah  tentu ia tidak pernah jajan di sekolah.

Wadah tempat makan dan minum haruslah dipilih yang higienis dan aman. Wadah yang cocok untuk anak-anak, tentunya yang terbuat dari plastik sehingga tidak mudah pecah dan ringan dibawa. Masalahnya, wadah plastik juga harus dipilih yang memenuhi standar. Plastik atau polimer ini terbuat dari berbagai bahan kimia yang apabila terjadi kontak dengan makanan akan menyebabkan perpindahan (migrasi) bahan-bahan kimia ke wadah makanan tersebut. Migrasi ini terjadi karena pengaruh suhu makanan, penyimpanan, dan proses pengolahannya. Semakin tinggi migrasi bahan kimia dari plastik ke makanan dapat menyebabkan penyakit kanker.

Plastik yang aman sebagai wadah makanan dan minuman itu harus memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut:
  • Ada simbol gelas dan garpu
  • Ada tulisan foodgrade
  • Ada tulisan approved by FDA
  • Dan merupakan merek dagang yang dipatenkan.

Saya memilih Tupperware sebagai wadah plastik yang aman untuk bekal anak-anak. Di bagian bawah produk Tupperware, ada simbol gelas dan garpu dan PP 5 (segitiga angka 5). Menurut BPOM dalam siaran persnya, kemasan plastic PE-HD (segitiga angka 2), PE-LD (segitiga angka 4), dan PP 5 merupakan kemasan plastik yang paling aman dan paling banyak digunakan dibandingkan dengan kemasan lain. Jadi, gak salah deh saya pilih Tupperware.
Salim asyik memilih makanan yang
disimpan dalam wadah Tupperware

Kerjasama antara Orang Tua dan Guru
Inisiatif orang tua untuk menyiapkan bekal dari rumah, tidak akan lengkap bila tidak disertai pengawasan guru di sekolah. Para guru juga harus diberikan kesadaran bahwa jajanan-jajanan yang dijual di sekolah itu tidak semuanya layak konsumsi. Sewaktu saya SD, saya juga sering mendapati penjual makanan tidak sehat, misalnya bakso dengan saus merah pekat dan mengandung boraks, sosis-sosisan, agar-agaran (agar dengan pewarna tekstil), dan lain sebagainya. Kepala Sekolah dan para guru harus dapat bertindak selektif terhadap penjual makanan di sekolah mereka.

Walaupun anak-anak sudah membawa bekal dari rumah, terkadang orang tua masih menyisipi uang jajan karena khawatir anaknya tiba-tiba ingin makan atau minum, sedangkan persediaan bekalnya sudah habis. Apabila pihak sekolah tidak menindak para penjual jajanan berbahaya, sudah tentu anak-anak akan membeli makanan-makanan itu. Jadi, dalam hal ini, sangat diperlukan kerjasama antara orang tua dan guru.

Agar Anak Memiliki Karakter Hidup Bersih, Sehat, dan Mandiri
Menanamkan karakter hidup bersih, sehat, dan mandiri dapat dilakukan sejak dini. Justru pada usia dini, anak-anak lebih mudah menerima masukan dan pelajaran dari orang dewasa. Anak-anak perlu diajari untuk:
  • Mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan, agar tidak ada kuman yang masuk ke dalam makanan dan kemudian ditelan oleh anak-anak.
  • Memilih makanan yang baik, sehat, dan bergizi. Kalau perlu, disebutkan juga jenis-jenis makanan yang tidak boleh dimakan, misalnya nugget, sosis, bakso yang dijual di abang-abang dengan pewarna merah pekat dan harga murah.
  • Membuang sampah pada tempatnya.
  • Belajar mandi sendiri.
  • Belajar BAB dan BAK sendiri, dengan menggunakan sabun supaya bersih.
  • Merapikan mainan yang sudah selesai dimainkan.

Tentunya, orang tua juga perlu mencontohkan semua perilaku itu, karena anak-anak suka meniru orang dewasa.

Berawal dari rumah, mari ciptakan karakter bersih, sehat, dan mandiri terhadap anak-anak Indonesia!
*** 

Tulisan ini disertakan dalam lomba blog Aku Anak Sehat dari Tupperware Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar